Minggu, 07 Mei 2017

Penyebab kegagalan umum sistem informasi dan peran pemimpin dalam e-government

Sistem Informasi (SI) adalah kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemen. Dalam arti yang sangat luas, istilah sistem informasi yang sering digunakan merujuk kepada interaksi antara orang, proses algoritmik, data, dan teknologi. Dalam pengertian ini, istilah ini digunakan untuk merujuk tidak hanya pada penggunaan organisasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), tetapi juga untuk cara di mana orang berinteraksi dengan teknologi ini dalam mendukung proses bisnis.


Tujuan dari sistem informasi adalah menghasilkan informasi. Sistem informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang berguna bagi para pemakainya. Data yang diolah saja tidak cukup dapat dikatakan sebagai suatu informasi. Untuk dapat berguna, maka informasi harus didukung oleh tiga pilar sebagai berikut: tepat kepada orangnya atau relevan (relevance), tepat waktu (timeliness), dan tepat nilainya atau akurat (accurate). Keluaran yang tidak didukung oleh tiga pilar ini tidak dapat dikatakan sebagai informasi yang berguna, tetapi merupakan sampah (garbage).

Pengembangan sistem informasi memerlukan suatu perencanaan yang baik, implementasi yang baik, dan umpan balik yang akurat untuk menghindari adanya kegagalan dari pengembangan sistem tersebut sehingga mengakibatkan adanya penolakan dari para pengguna sistem informasi tersebut.

Didalam mengukur tingkat keberhasilan dari penerapan sistem informasi, maka perusahaan harus melakukan evaluasi yang sistematis atas penerapannya. Dari evaluasi yang dilakukan tersebut, akan dapat ketahui tingkat kesesuaian pencapaian tujuan yang diharapkan dengan rencana perusahaan menerapkan sistem informasi tersebut dan juga dapat mengantisipasi penyebab terjadinya kegagalan pada saat penerapannya.

Faktor-Faktor Penentu dalam Penerapan Sistem Informasi

Kegagalan dan kesuksesan dari penerapan suatu sistem informasi bukan hanya pada bagian-bagiannya saja, tetapi pada keseluruhan sistem informasi tersebut yang digunakan sebagaimana yang diharapkan pada saat perencanaannya. Seringkali ditemukan penerapan sistem informasi, terutama yang berbasis IT di suatu perusahaan mengalami kegagalan dikarenakan permasalahan teknis maupun non-teknis. Terdapat tiga hal mendasar yang berpengaruh dalam penerapan teknologi informasi di suatu perusahaan, yaitu :

a. Tenaga, waktu dan nilai investasi yang dikeluarkan untuk pengembangan sistem informasi (teknologi informasi) tersebut lebih besar dibandingkan dengan manfaat yang diterima perusahaan dari sistem informasi tersebut.

b. Tahapan pengembangan sistem informasi (teknologi informasi) yang harus diperhatikan perusahaan demi kesuksesannya yaitu :

 • Tahap Visi, dalam tahap ini perusahaan dituntut untuk dapat merumuskan secara jelas dari tujuan implementasi sistem informasi bagi perusahaan.
• Tahap Investasi, pada tahapan ini perusahaan dituntut untuk mengalokasikan dana khusus terkait pengembangan sistem informasi tersebut yang dipisahkan atau tidak bercampur dengan kegiatan investasi lainnya.
 • Tahap pengembangan/pengolahan, dalam tahapan ini perusahaan melakukan kegiatan monitoring dan melakukan perbaikan yang dibutuhkan atas implementasi sistem informasi perusahaan tersebut.
• Tahap pemanfaatan, perusahaan menerima manfaat atau keuntungan dari penerapan sistem informasi tersebut sesuai atau lebih besar dari manfaat yang telah diharapkan oleh perusahaan.  

c. Menurunnya nilai dari investasi yang telah dikeluarkan tersebut dikarenakan sangat rendahnya pemahaman para eksekutif perusahaan terhadap sistem informasi yang dibangun, keterbatasan dana untuk pengembangannya, minimnya jumlah tenaga ahli yang dimiliki oleh perusahaan, kurangnya dukungan infrastruktur sehingga menyebabkan meningkatnya marginal cost dibandingkan dengan marginal revenue yang diterima.


O’Brien dan Marakas (2009) menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan yang menyebabkan sukses atau tidaknya suatu organisasi/perusahaan dalam menerapkan sistem informasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan penerapan sistem informasi, antara lain
a. Dukungan dari manajemen eksekutif.
b. Keterlibatan end user (pemakai akhir).
c. Penggunaan kebutuhan perusahaan yang jelas.
d. Perencanaan yang matang.
e. Harapan perusahaan yang nyata.
Sedangkan diantara penyebab terjadinya kegagalan dalam penerapan sistem informasi pada sebuah perusahaan adalah :
    a.    Kurangnya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen

Persetujuan dari semua level manajemen terhadap suatu proyek sistem informasi membuat proyek tersebut akan dipersepsikan positif oleh pengguna dan staf pelayanan teknis informasi. Dukungan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penghargaan terhadap waktu dan tenaga yang telah dicurahkan pada proyek tersebut. Beberapa resiko dan konsekuensi manajemen yang tidak tepat dalam pengembangan sistem informasi adalah sebagai berikut.

• Biaya yang berlebih-lebihan sehingga melampaui anggaran.

• Melampaui waktu yang telah diperkirakan.

• Kelemahan teknis yang berakibat pada kinerja yang berada dibawah tingkat dari yang diperkirakan.

• Gagal dalam memperoleh manfaat yang diperkirakan.

    b.    Kurangnya keterlibatan atau input dari end user (pemakai akhir)

Keterlibatan dalam desain dan operasi sistem informasi mempunyai beberapa hasil yang positif. Pertama, jika pengguna terlibat secara mendalam dalam desain sistem, ia akan memiliki kesempatan untuk mengadopsi sistem menurut prioritas dan kebutuhan bisnis, dan lebih banyak kesempatan untuk mengontrol hasil. Kedua, pengguna berkecenderungan untuk lebih bereaksi positif terhadap sistem karena mereka merupakan partisipan aktif dalam proses perubahan itu sendiri.
Kesenjangan komunikasi antara pengguna dan perancang sistem informasi terjadi karena pengguna dan spesialis sistem informasi cenderung memiliki perbedaan dalam latar belakang, kepentingan dan prioritas. Inilah yang sering dikatakan sebagai kesenjangan komunikasi antara pengguna dan desainer (user-designer communication gap).

    c.    Tidak memiliki perencanaan yang memadai

Sistem informasi sebaiknya harus ditentukan maksud dan tujuannya. Setelah itu, menambahkan komponen-komponen yang sesuai dengan tujuan utama dari sistem informasi tersebut. Perencanaan sistem informasi sebaiknya sejalan dengan tujuan dan komponen-komponen yang telah ditentukan sehingga tidak keluar dari jalur utama yang telah ditetapkan. Sistem informasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan akan menghambat tujuan dari perusahaan tersebut.
Pengembangan dan penerapan sistem informasi yang tidak didukung dengan perencanaan yang matang tidak akan mampu menjembatani keinginan dan kepentingan berbagai pihak di perusahaan. Hal ini dikarenakan sistem yang dijalankan tidak sesuai dengan arah dan tujuan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan yang tidak memiliki kompetensi inti dalam bidang teknologi informasi 14 sebaiknya menjadi tidak memaksakan untuk menjadi leader dalam investasi teknologi informasi.
Sebagian besar penyedia jasa teknologi informasi kurang sensitif terhadap kebutuhan manajemen perusahaan, tetapi hanya fokus pada tools yang akan dikembangkan. Kelemahan inilah yang mengharuskan perusahaan untuk mengidentifikasi secara jelas kebutuhan dan spesifikasi sistem informasi yang akan diterapkan beserta manfaatnya terhadap perusahaan. Kesiapan perusahaan dalam merancang penerapan sistem informasi berdasarkan sumberdaya yang dimiliki diyakini dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan tersebut.

Dengan demikian sistem informasi merupakan sarana untuk mendukung operasi dan manajemen pada suatu perusahaan. Sedangkan pada bidang pemerintahan,sistem informasi digunakan sebagai sarana untuk mendukung e-government yang merupakan aplikasi/web pada pemerintahan yang bertujuan agar pemerintahan dapat terlihat lebih transparan dan pemerintah dapat memudahkan masyarakat untuk mengakses dan memantau aktivitas apa saja yang saat ini sedang dilakukan oleh pemerintah atau program-program apa saja yang telah disiapkan oleh pemerintah.
Pemerintahan tidak luput dari adanya seorang pemimpin yang bertugas memimpin dan mengorganisir anggotanya. Seorang pemimpin juga sangat berperan dalam e-government ini.  Strategi dari seorang pemimpin tersebut memegang peranan yang penting dalam kebijakan penerapan e-government. Adapun strategi dari seorang pemimpin yang harus diperhatikan adalah seorang pemimpin harus memiliki visi yang jelas, strategi yang berkualitas serta adanya kesadaran dari seorang pemimpin dan yang lebih penting adalah seorang pemimpin harus ditunjang dengan pengetahuan dan skill yang baik serta memiliki komitmen dalam kebijakan penerapan e-government tersebut.

Contoh peran pemimpin dalam e-government

Strategi Pemikiran Pemimpin dalam Kebijakan Penerapan e-Government Melalui SIMPEG di Biro Kepegawaian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat

Strategi pemikiran yang dimiliki seorang pemimpin dalam kebijakan penerapan e-Government melalui SIMPEG di Biro Kepegawaian Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat cukup memadai dengan memiliki visi yang jelas yaitu menciptakan suatu sistem pengelolaan data kepegawaian yang siap dan kapan saja disajikan dalam mendukung proses pengambilan keputusan dibidang kepegawaian. dengan melakukan pendekatan sosialisasi tentang pentingnya suatu pendistribusian data kepegawaian, yang merupakan sebuah strategi dalam menerapkan e-Government melalui SIMPEG. Pengetahuan Kepala Sub Bagian Data Kepegawaian dan Informasi Kepegawaian mengenai sistem informasi khususnya di kalangan pemerintahan sudah cukup baik, walaupun kepala Sub Bagian Data dan Informasi Kepegawaian bukan berlatar belakang pendidikan dari lulusan yang berkenaan dengan bidang IT. Pengetahuan tersebut didapat dengan mengikuti perkembangan dari IT tersebut, pengetahuan tersebut didapat dari pelatihan dan seminar-seminar yang berkenaan dengan IT yang berkembang di kalangan pemerintahan. Kegiatan-kegiatan yang diikuti tersebut sebagai komitmen kepala Sub Bagian Data dan Informasi Biro Kepegawaian sebagai pengelola SIMPEG. dari Pengetahuan kepala Sub Bagian Data dan Informasi Biro Kepegawaian ditunjang dengan kemampuan dan pengetahuan tentang pelaksanaan dari penerapan kebijakan e-Government. Pengetahuan dan kemampuan tersebut didapatkan dari pendidikan kepala Sub Bagian Data dan pada Bagian Pengadaan dan Informasi Kepegawaian yang berlatarbelakang Ilmu Pemerintahan. Dengan demikian pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki kepala Sub Bagian Data dan Informasi Kepegawaian sudah cukup memadai, sebagai penunjang untuk perkembangan dan pengelolaan SIMPEG yang lebih baik.


Kesimpulan:

Sistem informasi memiliki peranan yang sangat penting didalam mendukung perusahaan untuk dapat mencapai tujuan strategis perusahaan. Pengembangan sistem informasi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya biaya, waktu pengembangan, kemampuan sumber daya manusia yang menjalankan sistem tersebut, dan faktor lainnya. Sistem informasi pada pemerintahan (e-government) juga sangat membantu masyarakat agar masyarakat dapat mengetahui informasi terkait tentang pemerintahan. 
Didalam mengukur tingkat keberhasilan dari penerapan sistem informasi, maka perusahaan harus melakukan evaluasi yang sistematis atas penerapannya. Dari evaluasi yang dilakukan tersebut, akan dapat ketahui tingkat kesesuaian pencapaian tujuan yang diharapkan dengan rencana perusahaan menerapkan sistem informasi tersebut dan juga dapat mengantisipasi penyebab terjadinya kegagalan pada saat penerapannya.

Penyebab-penyebab kegagalan dalam penerapan sistem informasi perusahaan diantaranya :
- Kurangnya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen.
- Kurangnya keterlibatan atau input dari end user (pemakai akhir).
- Tidak adanya perencanaan yang memadai.

Sedangkan sistem informasi pada pemerintahan,seorang pemimpin harus berperan dalam menerapkan e-government dengan menyusun strategi secara matang dan berkualitas,dan dengan adanya kesadaran dari pemimpin,serta pemimpin yang ditunjang dengan ilmu pengetahuan dan skill maka e-government dapat terealisasi sebagaimana mestinya.  

Sumber:




  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar